KabarMakassar.com -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) megatakan kelompok besutan Puang Nene atau Walinono menyimpang dari aqidah agama Islam.
Al Mukarram Al Khaerat Segitiga Emas Sunda Nusantara adalah nama kelompok Puang Nene yang diisukan tidak mewajibkan salat lima waktu dan Jumat.
Aliran ini bertempat di Dusun Pape, Desa Mattirowalie, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone.
Ketua MUI Kabupaten Bone, Prof Dr KH Amir HM mengatakan isu yang beredar itu belum benar adanya terutama tidak mewajibkan salat lima waktu dan salat Jumat.
"Tim kami di MUI Kecamatan Libureng sedang melakukan pendekatan, menurut keterangan yang diperoleh dari pengikutnya mereka hanya melakukan kajian tarekat dan tasawuf di malam harinya, " ungkapnya, Minggu (26/03).
Ia melanjutkan persoalan tidak melakukan salat Jumat itu cuma isu yang tidak betul karena sebagian pengikutnya tetap melaksanakan sholat Jumat.
"Mungkin ada sebagian masyarakat melihat mereka jarang salat Jumat padahal bisa jadi mereka salat di masjid lain atau musafir sehingga tidak sempat melaksanakan salat Jumat, " jelasnya.
"Kami juga sedang melakukan pembinaan dengan mengirim dai kami dari MUI Kecamatan Libureng untuk Khutbah Jumat dan berceramah selama bulan Ramadhan di masjid tempat mereka salat," tambahnya.
Lanjutnya, dari MUI Bone juga akan segera memberikan pembinaan terhadap Puang Nene dan pengikutnya yang diduga sesat.
Dalam waktu dekat MUI kabupaten juga akan menemui mereka. Jika ditemukan ada penyimpangan misalnya tidak mewajibkan salat lima waktu atau menganggap pemimpinnya Nabi maka pasti kita dianggap sesat.
Namun sejauh ini masih aman hanya menyimpang dari segi aqidah karena melakukan musyrik dengan melakukan ritual sesajian di sungai.
"Memang ada ajaran menyimpang yang mengarah pada penyembahan berhala", katanya.
Persoalan syirik, kata Prof Amir masih banyak terjadi dimana-mana di masyarakat sehingga tugas dai harus menyampaikan dakwah tentang tauhid.
"Tauhid menjadi perkara yang sulit bahkan sejak jaman dahulu sehingga nabi berkata yang paling berat saya hadapi dari umatku adalah masalah kemusyrikan, " tutupnya.
Diketahui ajaran Puang Nene setiap bulan memberi sesajen berupa makanan ke pinggir sungai di Desa Mattirowalie Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone.