Langsung ke konten
News

Idulfitri yang Tak Bersih, Sampah Koran Meluber di Masjid Syekh Yusuf Gowa

Sisi lain Idulfitri 1447 H di Masjid Syekh Yusuf Gowa: Tumpukan koran bekas alas salat berserakan usai ibadah. Minim fasilitas atau rendahnya kesadaran warga?

Redaksi
Suasana Tumpukan Koran Bekas Alas Salat Idulfitri di Mesjid Syekh Yusuf Kabupaten Gowa, (Dok: Sinta KabarMakassar).
Suasana Tumpukan Koran Bekas Alas Salat Idulfitri di Mesjid Syekh Yusuf Kabupaten Gowa, (Dok: Sinta KabarMakassar).
KabarMakassar.com — Momen khusyuk Salat Idulfitri 1447 Hijriah/2026 di Masjid Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa, berubah menjadi sorotan akibat tumpukan sampah yang ditinggalkan jamaah. Usai ibadah, halaman masjid hingga akses jalan di sekitarnya dipenuhi koran bekas alas salat yang berserakan bersama tisu dan botol plastik. Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi pelataran masjid yang dipenuhi kertas koran dalam keadaan kusut dan terlipat. Sebagian terbawa angin hingga menyebar ke berbagai sudut, menciptakan pemandangan yang jauh dari kesan bersih di hari raya. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah jamaah perempuan masih terlihat duduk berkelompok mengenakan mukena beragam warna dan motif. Aktivitas di sekitar lokasi juga belum sepenuhnya reda, dengan anak-anak dan pedagang balon turut meramaikan suasana. Minimnya fasilitas tempat pembuangan sampah disebut menjadi salah satu penyebab. Namun di sisi lain, kesadaran jamaah juga ikut disorot. Salah satu warga, Lina (41), mengaku tidak menemukan tong sampah di sekitar lokasi sehingga memilih meninggalkan koran bekasnya. “Saya tidak lihat ada tong sampah atau kantong sampah, jadi saya biarkan saja,” ujar Lina, Sabtu (21/03). Ia menambahkan, kondisi tersebut kerap terjadi setiap pelaksanaan Salat Id. “Kalau tidak disediakan tempat sampah, biasanya memang banyak yang tinggalkan begitu saja,” katanya. Sementara itu, warga lain Nina (38) menilai persoalan ini bukan semata soal fasilitas, tetapi juga kesadaran masyarakat. “Harusnya masing-masing bertanggung jawab dengan sampahnya sendiri. Walaupun tidak ada tempat sampah, minimal dikumpulkan dulu atau dibawa pulang,” ujarnya. Fenomena katanya memunculkan dua persoalan klasik dalam kegiatan massal keagamaan diantaranya keterbatasan fasilitas dan rendahnya kesadaran kolektif. "Jadi tanpa keduanya dibenahi, pemandangan serupa berpotensi terus berulang setiap momentum besar seperti Idulfitri," tukasnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua