Langsung ke konten
News

DPRD Makassar Desak Cek CCTV dan Evaluasi RSIA Paramount Usai Bayi Meninggal

Redaksi Diperbarui
Suasana Komisi D DPRD Kota Makassar saat Inspeksi di RS Paramount (Dok: Ist)
Suasana Komisi D DPRD Kota Makassar saat Inspeksi di RS Paramount (Dok: Ist)
KabarMakassar.com — Kasus meninggalnya seorang bayi tiga hari setelah dilahirkan di RSIA Paramount Makassar mendapat perhatian serius dari Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar. Legislator meminta rangkaian kejadian sebelum bayi meninggal ditelusuri secara menyeluruh, termasuk dengan memeriksa rekaman CCTV RSIA Paramount. Permintaan tersebut disampaikan setelah Komisi D melakukan inspeksi mendadak ke RSIA Paramount di Jalan A.P. Pettarani, Kamis (20/08). Sidak dilakukan untuk meminta penjelasan terkait laporan keluarga pasien sekaligus memastikan proses penanganan yang dilakukan rumah sakit. Anggota Komisi D DPRD Makassar, Adi Akbar, mengatakan pihaknya tidak ingin mengambil kesimpulan hanya berdasarkan informasi sepihak. Menurutnya, bukti dan kronologi harus diperiksa secara utuh. “Jadi kami memerlukan bukti ke sini, kami tidak mau setengah-setengah,” kata politisi PKS Makassar itu. Ia menyoroti informasi bahwa bayi awalnya dalam kondisi baik sebelum kemudian mengalami perubahan kondisi setelah dibawa oleh perawat untuk dimandikan. Menurut Adi, orang tua bayi kemudian menyampaikan adanya darah setelah bayi dikembalikan. Kondisi tersebut dinilai perlu ditelusuri lebih jauh untuk mengetahui respons dan penanganan yang dilakukan pihak rumah sakit. “Setelah dimandi dikembalikan, di situlah ada informasi balik dari pihak orang tua bayi mengatakan bahwa ada darah,” ujarnya. Karena itu, Adi mendorong rekaman CCTV diperiksa, terutama pada saat bayi dibawa perawat untuk dimandikan hingga kembali kepada orang tuanya. “Mungkin ini bisa kita nanti lihat CCTV-nya. Bagaimana caranya si perawat waktu diambil untuk dimandikan baru dikembalikan itu perlu kita lihat CCTV-nya,” tegasnya. Menurut dia, pemeriksaan tersebut penting agar DPRD memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai rangkaian kejadian dan tidak hanya mengandalkan asumsi. Adi juga meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Makassar memperkuat pengawasan terhadap pelayanan rumah sakit. Ia berharap setiap kejadian yang menyangkut keselamatan pasien menjadi bahan evaluasi dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ia menilai rumah sakit perlu meningkatkan edukasi serta pengarahan kepada tenaga kesehatan, khususnya dalam menangani bayi dan pasien yang membutuhkan perhatian khusus. “Kita rekomendasikan bagaimana rumah sakit jadi warning untuk lebih berhati-hati,” katanya. Adi juga mendorong adanya briefing dan edukasi yang lebih intensif bagi tenaga kesehatan agar standar penanganan pasien dapat diterapkan secara konsisten. “Dengan adanya teguran, pihak rumah sakit harus intens melakukan edukasi, intens melakukan briefing untuk bagaimana penanganan bayi yang cocok, sehingga tidak terulang,” ujarnya. Di sisi lain, Adi meminta seluruh pihak menunggu hasil pemeriksaan sebelum menyimpulkan penyebab kematian bayi. Menurutnya, faktor medis maupun kemungkinan adanya persoalan dalam pelayanan harus dibuktikan melalui pemeriksaan yang objektif. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak boleh dianggap remeh karena keluarga datang ke rumah sakit dengan harapan memperoleh pelayanan dan keselamatan. “Memang ini takdir, tapi kita jangan sampai penyumbangnya jangan sampai ada pencegahan. Jangan ini merupakan sepele,” tegas Adi. Komisi D DPRD Makassar selanjutnya akan mendorong pemerintah kota melalui Dinas Kesehatan untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan. Evaluasi diharapkan tidak hanya berorientasi pada pemberian teguran, tetapi juga memperbaiki sistem pelayanan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Adi mengatakan DPRD ingin memastikan setiap laporan mengenai keselamatan pasien ditangani secara serius dan menjadi bahan introspeksi bagi fasilitas kesehatan. “Kalau dari pihak kita selalu memeriksa ketika ada kejadian begini, kita kasih warning, supaya ini dijadikan untuk mengintrospeksi, kasih intens itu edukasi ke perawat,” tuturnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua