KabarMakassar.com -- Forum Anti Korupsi dan Kolusi (FAKK) melakukan aksi unjuk rasa di halaman LD2DIKTI, Jalan Perintis Kemerdekaan KM 10, Makassar sekitar pukul 10.00 WITA, Kamis (03/08) kemarin.
Aksi itu mendesak Kadiknas Sulsel segera mencopot Kepala Sekolah (Kepsek) SMUN 23 Makassar, Muh. Akhyar yang diduga gagal mengemban amanah.
Selain itu, para orangtua dan wali murid yang tergabung dalam FAKK juga menyatakan Mosi tidak percaya pada Komite Sekolah dan sekaligus menuntut pembekuan segala kegiatan komite sekolah serta mencabut SK Kepengurusan komite sekolah SMUN 23 Makassar.
Terkait hal itu, Wakil Sekretaris Komite Sekolah SMUN 23 Makassar, Ahmad Zubair mengatakan penyampaian aspirasi wajar-wajar saja, dan dilindungi undang-undang.
"Kita cerna di point 4 soal mosi tidak percaya kepada Komite Sekolah, itu juga wajar, namanya tuntutan sah-sah saja, tapi apakah dalam pelaksanannya tuntutan itu bisa terwujud, ya kembali ke pengurus komite sekolah dong," ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (04/08).
Ia mengakui adanya konflik internal yang terjadi di lingkup SMUN 23 Makassar yang mengakibatkan adanya perpecahan dan kubu-kubu di dalam sekolah.
"Jadi, begini, sebenarnya memang dugaan itu terjadi dua kubu di Komite Sekolah ada yang diduga pro ke Kepala Sekolah, antara lain, bisa dilihat siapa-siapa yang aktif di Komite Sekolah, kan terbaca di situ," sambungnya.
Lebih lanjut ia menduga adanya oknum-oknum Komite Sekolah yang dominan mengurus rapat belakangan ini.
"Dugaan saya jumlahnya hanya 3 orang yang aktif, sementara yang 12 anggota Komite Sekolah yang lain, tidak akti," pungkasnya.
Ia pun menduga 12 anggota komite yang tidak aktif dikarenakan bertolak belakang dengan tiga pengurus yang aktif.
"Pertanyaan, ada apa mereka yang dominan banyak, tapi kok tidak mau mengurusi sekolah ini? Ia menduga karena tiap rapat Komite Sekolah, para pengurus yang dominan ini selalu bertolak belakang dengan yang 3 orang pengurus itu. Makanya, saya harus katakan yang sebenarnya," ulasnya.
Meski begitu, ketika ditanya siapa tiga orang pengurus itu, ia enggan menyebutkan nama.
"Silahkan cross check sendiri di sekolah, siapa nama dan apa jabatannya," pintanya.
Mantan aktivis era 98 ini, juga mengaku selama ini tetap vokal menyuarakan kepentingan orang banyak, termasuk menolak kebijakan-kebijakan yang tidak populis, apalagi memberatkan orang tua murid.
Ia juga setuju dengan tuntutan para pendemo jika Kepsek segera dicopot. Sayangnya, kondisi kesehatannya masih terbilang lemah dan tengah dirawat di rumah sakit akibat komplikasi yang dideritanya.
Ia pun menghimbau kepada semua komponen masyarakat, terutama orang tua murid untuk bijak menyikapi persoalan di SMUN 23 Makassar.
"Jangan kita ingin dibenturkan sesama orang tua murid hanya karena ada dugaan yang ditutup-tutupi atau dugaan rencana memuluskan keputusan yang sudah dikondisikan, termasuk dugaan penggiringan opini, jangan pernah takut melakukan protes," jelasnya.