Langsung ke konten
News

Cerita Mahasiswa Asal Lutim Tempuh Pendidikan Beasiswa S2 di India

Redaksi Diperbarui

KabarMakassar.com -- Mimpi mendapatkan beasiswa dan berkuliah di luar negeri menjadi hal yang paling didambakan Ashabul Kahffi.

Mahasiswa asal Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan itu sejak dulu ingin mengexplore dunia dan menempuh pendidikan di luar negeri.

"Bermimpi untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat Master menjadi prioritas saya setelah lulus S1 di Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah," ungkapnya, saat dihubungi, Senin (07/08).

Mimpi mahasiswa berusia 24 tahun itu lantas terwujud berkat lulus menjadi salah satu anak muda yang mendapatkan kesempatan beasiswa S2 melalui Indian Council for Cultural Relationship (ICCR) tahun 2022 untuk menempuh pendidikan di tanah Mahatma Gandhi.

Kahffi panggilan akrabnya diterima di Gujarat Technological University pada jurusan Master Water Resources Engineering.

"Beasiswa ini mengfasilitasi biaya kuliah, uang saku, hostel/kos, uang buku, dan juga biaya pulang pergi Indonesia India," sambungnya.

Meski begitu, ia mengaku tidak mudah untuk melalui proses seleksi, banyak hal yang perlu ia persiapkan dari jauh-jauh hari dalam bidang akademik dan non akademik.

Mahasiswa kelahiran Wotu, 04 Desember 1999 itu mengaku tertarik untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi di negara dengan peradaban Kuno Sungai Indus India ketimbang di negara bagian Eropa seperti kebanyakan orang.

Menurutnya, India adalah negara yang mempunyai banyak bangunan sejarah di hampir sudut kota dan juga terkenal dengan Film Bollywood serta budaya kearifan lokal yang masih melekat erat dengan masyarakatnya.

Selain itu, India terkenal dengan kualitas pendidikannya khususnya di bidang teknologi, teknik, dan farmasi serta menjadi negara penerbit jurnal dan karya ilmiah terbesar ke-3 di Asia dan ke-12 di dunia.

"Tidak banyak orang yang tahu rata rata kampus di India saat ini sudah memasuki 1000 universitas terbaik dunia menurut QS World University Rangkings dan terdapat 3 kampus masuk 200 besar terbaik dunia. Salah satu kampus tertua di dunia berada di India yaitu Nalada University yang berdiri sekitar tahun 427 M , 600 tahun sebelum Bologna berdiri," ulasnya

Anak ke 4 dari 6 bersaudara itu pun menuturkan pengalamannya menjadi mahasiswa di India. Ia menjelaskan kebanyakan orang akan mengira bahwa culture shock paling berat ialah makanan dan budaya orang sekitar, tetapi baginya gegar budaya yang paling berat adalah sistem belajar dan ujian yang begitu komplit.

"Culture shock paling berat menurut saya ialah sistem belajar dan ujian di India sangatlah komplit. Mahasiswa diwajibkan mengikuti kuliah, mengumpulkan tugas dan mengikuti 4 rangkaian ujian sebelum semester berakhir," ujarnya

"Ujian di India sangat menguras tenaga, pikiran dan juga waktu, dalam menjalankan ujian terdapat +10 nomor soal yang dikerjakan selama 3 jam lamanya, dalam lembar jawaban tersebut perlu ditulis dan dijelaskan sedetail-detailnya dan wajar 1 soal memiliki 3-5 lembar jawaban. Jika jadwal ujian telah dikeluarkan oleh pihak kampus, banyak mahasiswa berbondong bondong untuk belajar di fasilitas kampus seperti perpustakaan, ruang baca atau di taman kampus,"jelasnya

Meski begitu, baginya India mejadi rumah kedua. Tak hanya datang untuk menimba ilmu pengetahuan namun juga menjadi tempat belajar banyak tentang kehidupan yang kaya akan budaya, adat istiadat dan kebiasaan yang tentu berbeda dengan Indonesia.

"Mempelajari gaya hidup dan juga budaya orang di India mengajarkan saya bagaimana cara menghormati, menghargai dan juga tolenransi antar agama," singkatnya

Ia pun bersyukur dan merasa beruntung dapat berkuliah di India dan mendapatkan banyak teman International dari berbagai negara seperti India, Mesir, Mozambique, Lesotho, Afganistan, Sudan dan lainnya.

"Hal yang membuat sangat bahagia tinggal di India karena saya bertemu dengan orang orang yang sangat baik dan memiliki visi yang selaras dengan saya. Orang orang berfikir India adalah tempat yang sangat sulit untuk beradaptasi dengan masyarakat sekitar, tetapi beda halnya dengan yang saya dapatkan disini, masyarakat Surties (Penduduk asli Kota Surat, Gujarat) mempunyai sifat yang murah senyum, baik, teloransi, bersahabat, dan berbagi," ucapnya.

Ia pun menyebutkan salah satu hal yang ia senangi adalah kebiasaan masyarakat Surties yakni piknik bersama dengan keluarga atau teman di pinggiran jalan (trotar) pada malam hari. Malam minggu akan menjadi lautan manusia di pinggiran jalan Kota Surat dimana masyarakat datang berbondong-bondong ke trotoar untuk duduk dan menikmati jajanan yang tersebar atau membawa bekal dari rumah.

Selain itu berkuliah di India juga membuatnya dipertemukan dengan orang-orang Indonesia yang menjadi keluarga kecil selama di diperantauan.

"Banyak kegiatan yang kami lakukan seperti masak masakan Indonesia, mengexplore India, membuat acara pertemuan mahasiswa Indonesia di India dan banyak lagi," jelasnya.

Ia pun berharap semakin banyak mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia yang mendapat beasiswa dan kesempatan berkuliah di luar negeri dengan belajar banyak hal serta mendapatkan ilmu dan pengalaman yang nantinya bisa diterapkan di negara asal.

"Untuk teman teman yang ada di Indonesia saat ini yang masih mencari beasiswa ke luar negeri atau sedang proses dalam penyeleksian beasiswa luar negeri saya berharap semoga teman teman bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan teman-teman harapkan. Untuk menjadi Diplomat Kecil Indonesia di mata dunia membutuhkan effort yang besar maka dari itu bagi teman-teman yang masih mencari atau sedang dalam proses penyeleksian beasiswa luar negeri tetap semangat dan jangan pantang menyerah," tutupnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua