- BPR Sembilan Mutiara
- BPR Bali Artha Anugrah
- BPRS Saka Dana Mulia
- BPR Dananta
- BPR Bank Jepara Artha
- BPR Wijaya Kusuma
- BPRS Mojo Artho Kota Mojokerto (Perseroda)
- BPR Usaha Madani Karya Mulia
- BPR Pasar Bhakti Sidoarjo
- BPR Purworejo
- BPR EDC Cash
- BPR Aceh Utara
- BPR Lubuk Raya Mandiri
- BPR Sumber Artha Waru Agung
- BPR Nature Primadana Capital
- BPRS Kota Juang (Perseroda)
- BPR Duta Niaga
- BPR Pakan Rabaa
- BPR Kencana
- BPR Arfak Indonesia
KabarMakassar.com -- Industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Indonesia tengah menghadapi tantangan besar. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, jumlah BPR yang ditutup mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni 20 bank.
Dibandingkan dengan rata-rata tahunan yang biasanya hanya 6 hingga 7 BPR, lonjakan ini tentu menjadi perhatian publik.
Namun, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa fenomena ini tidak mencerminkan adanya krisis dalam sektor perbankan. Justru, menurutnya, penutupan ini merupakan indikasi bahwa sistem pengawasan dan mitigasi risiko di Indonesia berjalan dengan baik.
“Penutupan BPR bisa menjadi indikasi yang baik saya kira, bagaimana bekerjanya sistem di Indonesia. Artinya, justru sebetulnya BPR yang sekarang mungkin sudah hampir 20 yang kita tutup itu tidak menimbulkan sama sekali goncangan atau keresahan pada masyarakat,” ujar Dian, Sabtu (05/04).
Sebagai anggota ex-officio Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Dian juga menambahkan bahwa pihaknya dapat menangani situasi ini dengan cepat dan efektif. Dengan adanya sistem penjaminan yang kuat, simpanan masyarakat tetap aman, dan penyelesaian masalah dapat dilakukan tanpa mengganggu kepercayaan publik terhadap perbankan.
“Dan ini suatu confidence yang sangat besar, agar ke depan masyarakat tidak ragu menyimpan di bank umum atau BPR yang dalam pengawasan kita yang semakin baik dari waktu ke waktu,” tambahnya.
Daftar BPR yang Tutup Sepanjang 2024-2025:
Pilihan Lain